Portal Indonesia
Habibie

Ironis, Pencabulan Pada Anak di Jawa Timur Semakin Marak Tak Terkendali

berita terkini
Ilustrasi
ramadhan

Opini Oleh : Nurindah Amd.Keb (Praktisi Kesehatan dan Pemerhati Generasi)

JAWA TIMUR, (portalindonesia.co.id)- Anak adalah investasi dan harapan masa depan bangsa. Sebagai penerus di masa mendatang. Anak merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dan keberlangsungan hidup bernegara, kelangsungan hidup suatu bangsa dan negara sangat tergantung pada kualitas anak di masa sekarang. 
Namun, di indonesia permasalahan pada anak nampaknya bukan mengarah kepada hal yang baik, namun sebaliknya. terutama  kekerasana pada anak, termasuk pelecehan seksual yang semakin marak terjadi. Menurut KPAI 2017, tercatat sebanyak 26.954 kasus kekerasan pada anak selama 7 tahun terakhir. 

Tidak hanya itu, awal 2018 saja, khususnya jawa timur kembali dikagetkan dengan beberapa kasus pelecehan seksual. Polda Jatim pada februari 2018 kemarin, mengungkapkan bahwa tercatat terjadi sebanyak 106 pelecehan seksual pada anak dibawah umur sepanjang januari-februari 2018. 

Tidak hanya itu, pelecehan-pelecehan pada anak nampaknya terus berlanjut, kasus terbaru kembali terjadi di surabaya dimana pada juli 2018 seorang guru les dijadikan tersangka karena telah melakukan pencabulan kepada 2 murid les laki-lakinya yang masih berumur 16 dan 17 tahun dengan alasan karena sering menonton video porno homoseksual. 

Berbicara masalah pelecehan seksual pada anak seolah tak ada habisnya, pelecehan yang berulang kali terjadi. Terjadi diberbagai lini, dari lingkungan masyarakat, lingkungan keluarga, lingkungan agama, bahkan lingkungan pendidikan.  Seorang ayah/kakek mncabuli anaknya sendiri, guru mencabuli siswa, siswa mencabuli guru, bahkan siswa mencabuli siswa lainnya.  

Sungguh miris. Apa yang menyebabkan pelecehan seksual pada anak semakin hari semakin marak terjadi? Masyarakat yang notabene harus menjadi pelindung, pendidik, pengayom. Namun malah menjadi perusak penerus generasi bangsa dimasa mendatang.  

Hal ini tidak terlepas dari nilai-nilai hidup salah yang berada di tengah tengah masyarakat. Dimana, nilai- nilai liberalisme (kebebasan) telah menjadikan masyarakat jauh dari agama. Agama hanya menjadi formalitas semata, agama hanya dijadikan sebagai  ibadah ritual saja, seperti sholat, zakat, puasa, haji saja. Sedangkan dalam beraktivitas, agama dipinggirkan. 

Nilai kebebasan yang berada di tengah-tengah masyarakat ini bagai racun yang sangat mematikan bagi akal dan naluri manusia, yang dijadikan standart perbuatan adalah hawa nafsu itu sendiri, sehingga ketika nafsu sudah bergejolak, maka akan dipenuhi meskipun melanggar norma dan akal sehat manusia. 

Selain itu, maraknya kasus pelecehan seksual pada anak menjadi gambaran bahwa betapa lemahnya kontrol keluarga dalam memberikan jaminan keamanan bagi anaknya. Tidak hanya itu, kontrol dari masyarakat yang sangat rendah juga mengakibatkan kasus pelecehan pada anak semakin banyak terjadi. Namun tidak hanya berhenti disitu, negara yang mempunyai peran penting dalam kehidupan rakyatna nyata-nyatanya terkesan abai terhadap hukuman yang diberikan pada pelaku, pemberian hukuman yang rendah mengakibatkan para pelaku tidak punya efek jera didalamnya. 

Negara mempunyai peranan penting dalam mengatur kehidupan rakyatnya, dimana pencegahan dari awal sudah semestinya dilakukan. Seperti tayangan-tayangan di layar tv, media sosial seharusnya disaring, sehingga tidak merangsang hasrat khalayak ramai, penyebaran miras-miras seharsunya dihentikan, dan tempat-tempat kemaksiatan di hilangkan. Bahkan yang paling penting, negara seharusnya menanamkan aqidah yang kokok ditengah-tengah masyarakat dengan membuang jauh-jauh nilai-nilai kebebassan yang senantiasa didengungkan di negeri ini.

Reporter : Lutfi
Editor :
444
Berita Sebelumnya Sasari Lereng Wilis, Dandim Bersama Kapolres Ponorogo Kendarai Trail Siaga Jelang Pilkades Serentak
Berita Selanjutnya 21 Perguruan Resmi Daftar Pada Open Turnamen Karate KKI Lhokseumawe CUP I

Komentar Anda