Portal Indonesia
Habibie

Pembuangan Bayi di Jember Menjadi Rutinitas Bulanan. Ada Apa?

berita terkini
Penulis, Nurindah, Amd.Keb.
ramadhan

PORTALINDONESIA.NET - Marah, Emosi, tidak habis fikir. Ini mungkin yang dirasa oleh banyak pihak saat ini. Betapa tidak, Kota jember yang dijuluki "Kota Seribu Santri" hampir setiap bulannya terjadi pembuangan bayi. Beberapa hari yang lalu, warga Desa Gambiran Kalisat Jember digemparkan dengan penemuan jasad bayi di semak belukar. Kondisi bayi sangat mengenaskan, ia dibungkus kantong plastik berwarna merah dan hitam dalam kondisi telungkup tanpa baju dan sudah mulai membusuk (jawapos.com, 14/01/2020)

Sepekan sebelumnya kasus yang sama juga terjadi. Warga Kalisat Jember digemparkan dengan penemuan jasad bayi laki-laki yang masih terdapat tali pusar dan membusuk di saluran air persawahan, tepatnya di Desa Patempuran. (kompas.com, 08/01/2020).

Tentu, dua kejadian diatas semakin menambah daftar panjang kasus pembuangan bayi. Setidaknya kejadian seperti ini bisa dikatakan terjadi hampir setiap bulan. 

Pada tahun 2019 tepatnya bulan Desember, warga pinggiran sungai Wringin Telu, Kecamatan Puger, Jember juga dihebohkan oleh penemuan sosok jasad bayi perempuan dalam kondisi telungkup, yang masih tertempel ari-ari, dan disekujur tubuh bayi sudah banyak dikerubungi kepiting kecil (merdeka.com, 20/12/2019)

Di bulan Oktober, seorang bayi laki-laki juga ditemukan dikamar mandi puskesmas tempurejo jember, diduga bayi hasil dari hubungan gelap (jember1tv.co.id, 10/10/2019)

Sebulan sebelumnya, yakni dibulan September, sesosok jasad bayi laki-laki dalam kardus ditemukan warga tersangkut di bebatuan sungai Bedadung, Jember. Bayi tersebut diduga dibuang orang tuanya di sungai karena hasil hubungan gelap. (inews.id, 19/9/2019)

Jika ditotal angka pembuangan bayi dikota jember dari januari 2019 hingga Januari 2020 mencapai 12 kasus. 

Peristiwa yang terjadi hampir setiap bulannya tersebut, seakan-akan sudah menjadi rutinitas. Kasus ini jauh sangat meningkat dibandingkan tahun–tahun sebelumnya. Kota yang dijuluki Kota Seribu Santri ini, seharusnya tercipta generasi Qur’ani yang takut pada illahi Robbi, keluhuran akhlaqnya tinnggi, disibukkan dengan perkara-perkara layaknya hakikat seorang santri.

Namun fakta kini sangat jauh berbeda, kota Seribu Santri kini terkesan banyak terjadi kasus kriminalitas yang tinggi. Kasus pembuangan bayi yang terjadi setiap bulannya menjadi keprihatinan semua kalangan yang masih peduli akan generasi. Mengapa ini semua bisa terjadi? Kapan akan berakhir? 

Akar Masalah

Tingginya angka pembuangan bayi ini terjadi akibat seks bebas di kalangan remaja yang sudah dianggap biasa. Bayi yang dibuang adalah hasil dari seks bebas para pemuda pemudinya yang hamil kemudian memilih jalan pintas agar tak menanggung malu, ada yang digugurkan dan di dibuang atau dibunuh pasca melahirkan .  

Apa yang terjadi pada generasi hari ini tentu tidak terlepas dari sistem kehidupan yang ada di Negeri ini. Sistem Kehidupan Kapitalisme - Liberal memiliki konsep mencari manfaat/keuntungan serta menganut paham kebebasan yang tiada batasnya tanpa memperhatikan lagi aturan agama. 

Miras dan narkoba sudah bukan menjadi barang tabu lagi bagi para pemuda. Tayangan-tayangan yang ditancapkan oleh medis sekuler yang selalu mencari keuntungan tanpa mempedulikan bahayanya bagi generasi senantiasa disalurkan melalui televisi, film, dan sosial media. Tayangan-tayangan pergaulan bebas, pornografi menjadi hal yang sudah biasa dikalangan pemuda saat ini, membuat mereka mudah terangsang untuk melakukan hal serupa. Kurikulum pendidikan yang hanya beriorientasi pada nilai dan terserapnya individu dalam lapangan pekerjaan, tanpa memperhatikan betul pola perilaku anak didiknya sesuai dengan aturan agama juga menjadi faktor semakin maraknya perilaku-perilaku amoral. 

Masyarakat saat ini juga cenderung abai melihat banyak persoalan dinegeri ini, Hukuman yang diberikan pun terlampau ringan tidak menjerakan. Sehingga semakin membuka peluang orang untuk melakukan perbuatan yang dilarang agama tersebut. 

Solusi Pasti

Melihat fenomena yang membuat miris ini, tentu semua pihak ingin ini cepat tersolusi, sehingga kejadian-kejadian diatas tidak terulang lagi. Karena generasi adalah aset berharga kehidupan berbangsa negara. Ketika rusak generasinya, rusaklah tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 

Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat maupun negara untuk mensolusinya seperti Sex education yang diterapkan disekolah-sekolah, juga banyaknya film-film tentang bahaya seks bebas dianggap bisa menekan angka pergaulan bebas dari waktu ke waktu. Namun fakta yang terjadi adalah sebaliknya, kasus seks bebas bukan semakin berkurang, tapi semakin tinggi. Mengapa?

Pemisahan antara agama dan kehidupan adalah penyebabnya. Agama tidak lagi dijadikan sebagai aturan kehidupan. Padahal islam adalah agama yang sempurna dan paripurna telah diturunkan oleh Sang Pencipta untuk mengatur kehidupan manusia. Islam punya solusi, dari ketaqwaan individu, masyarakat dan negara

“...maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu...” (Q.S Al-Maidah : 48)

Didalam Islam setiap individu akan dikondisikan untuk bertaqwa kepada Allah, mereka hidup senantiasa untuk mengharapkan pahala dan takut adzab akhirat, yang dengannya akan membuat individu-individu berbuat sesuai koridor syariat, mereka akan takut untuk melakukan tindakan-tindakan amoral.

Masyarakat juga akan dikondisikan untuk tidak terbawa pergaulan bebas. Para wanita diwajibkan menutup aurat dan menjaga kehormatannya, interaksi pria dan wanita terjaga hanya terbatas pada muammalah dan tolong menolong saja. Masyarakat juga akan timbul rasa saling peduli, sehingga akan terminimalisirlah kasus-kasus kriminal yang ada.  

Media-media akan diatur sedemikian rupa sehingga masyarakat tidak mudah terangsang untuk melakukan tindakan asusila. Lembaga pendidikan juga akan diarahkan untuk mencetak anak didik atau generasi yang tak hanya pandai dan ahli saja tetapi juga anak didik yang bermoral sesuai nilai-nilai agama.

Selain individu, masyarakat, Media dan lembaga pendidikan, ada hal yang paling utama yaitu Negara. Sehingga setiap orang akan merasa takut untuk melakukan tindakan amoral dan dapat meminimalisir atau bahkan mencegah terjadinya kasus pembuangan bayi di Jember maupun di kota lainnya. 

Wallahu a’lam bi showwab. (*)

Untuk diketahui, penulis, yakni Nurindah, Amd.Keb., adalah Praktisi Kesehatan sekaligus Pemerhati Generasi asal Kabupaten Jember, Jawa Timur. 

Reporter : -
Editor : Abdul Hakim
444
Berita Sebelumnya Ini Cara HIPAKAD Malang Raya Bangun Karakter Demi Keutuhan dan Kedaulatan NKRI
Berita Selanjutnya 21 Perguruan Resmi Daftar Pada Open Turnamen Karate KKI Lhokseumawe CUP I

Komentar Anda