Portal Indonesia
Habibie

Cerita Penulis Saat Melihat Potret Keluarga Kecil Tinggal di Gubuk di Tengah Kota Lhokseumawe

berita terkini
Kondisi gubuk yang dijumpai penulis di tengah kota Lhokseumawe. (Photo: Manzahari)
ramadhan

PORTALINDONESIA.NET, LHOKSEUMAWE - Tidak sengaja aku melintasi sebuah gang di tengah kota yang dibilang megah dan dijuluki sebagai kota petro dolar. Iya, Lhokseumawe tepatnya. Kota yang sangat indah sekali. 

Dinamika kota Lhokseumawe ini dalam pandanganku terus berkembang pesat. Kota yang terletak pada jalur transit dan pusat pemerintah kota, membuat intensitas dan jenis kegiatan sosial ekonomi di kota Lhokseumawe dapat tercermin pada pola intensitas dan pola perkembangan tata guna lahan, pola orientasi pergerakan, pola jaringan jaringan jalan dan fasilitas perkotaan lainnya. 

Di kota ini juga, ku jumpai sejumlah hotel. Namun, saat ku semakin melangkah masuk ke dalam gang, di samping hotel yang sering dijadikan tempat untuk istirahat para elit, terdapat sebuah gubuk. 

Sambil bingung dan heran, aku pun mulai mendekati sebuah istana kecil yang hampir roboh, di kelilingi dengan halaman rumah penuh genangan air, dan tumpukan sampah-sampah tepat di depan rumahnya.

Perlahan ku melangkah dengan maksud untuk menemui sang pemilik gubuk, "Assalamulaikum" kataku, pada seorang lelaki tua yang tak memakai pakaian di tubuhnya.

Dengan wajah bingung serta heran dan sambil membersihkan botol plastik bekas yang ingin dijualnya, lelaki tua itu menjawab salamku, "Waalaikum salam" katanya dengan wajah yang tampak kelelahan. Sehingga membuatku semakin prihatin dan ikut bisa merasakan kelelahan itu.

Ku berbincang dengannya penuh rasa penasaran hingga akhirnya ku paham, betapa keras hidup di sebuah kota petro dolar yang sangat megah itu. 

Betapa tidak, di tengah kota dan zaman seperti ini masih ada masyarakat yang memiliki tempat tinggal yang berlantaikan tanah, dengan dinding kayu bekas serta ditopang agar gubuk itu tak roboh, dan bagaikan sebuah kapal terapung di tengah laut yang dikelilingi air saat musim hujan turun.

Kakek tua ini hidup bersama 4 orang keluarganya, dan salah satu anaknya mengalami gangguan mental akibat oknum yang tidak bertanggung jawab saat konflik bersenjata di Aceh yang terjadi beberapa tahun lalu. 

Mengumpulkan barang bekas adalah rutinitas yang dilakukannya untuk menghidupi keluarga kecilnya,

Setelah mendengar ceritanya, lalu aku pun pamit serta berterima kasih padanya, yang telah memberikan pengalamanya padaku. 

Ada pesan tercermin dari lelaki tua itu, bahwa lelaki itu kuat dan tak pernah meminta-minta untuk menghidupi keluarganya. Dia sangat cinta keluarganya, dan saya juga ikut cinta akan Kota Lhokseumawe. Semoga Lhokseumawe semakin indah, dan rukun selalu untuk mencintai rakyatnya.

Cerita di atas, merupakan karya Manzahari, salah satu Mahasiswa Fakultas Hukum Unimal Aceh yang ditulisnya pada 14 November 2019. Ceritanya tersebut adalah potret bahwa di pusat kota Lhokseumawe atau tepatnya di Desa Mon Geudong Kecamatan Banda Sakti, terdapat warga miskin yang kondisi rumahnya sangat memprihatinkan dan tak mendapat perhatian dari pemerintah setempat. 

Rumah tidak laik huni dengan atap dan tembok nyaris ambruk yang dihuni oleh keluarga kecil tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi penulis dalam menatap hidup ke depan. 

Pada cerita tersebut, penulis juga menceritakan tentang seorang kakek tinggal bersama anak istrinya tinggal di gubuk yang berlantaikan tanah dengan dinding kayu bekas. Jika hujan turun, ember-ember harus disiapkan untuk menampung tetesan air dari atap yang bocor. 

Sementara kondisi di luar bagian samping gubuk, terlihat ada beberapa bilah kayu yang dijadikan penopang agar gubuk derita itu tidak ambruk dan dibagian depan gubuk terlihat genangan air serta tumpukan sampah.

Sungguh miris, ada warga Desa Mon Geudong Kecamatan Banda Sakti, hidup di rumah tidak layak huni. 

"Keprihatinan dan rasa iba akan semakin terasa saat kita berada di gubuk dan bertemu dengan penghuninya. Semoga pemerintah dan orang dermawan mau membantu warga yang tinggal di gubuk itu," ungkap Manzahari kepada portalindonesia.net, Jumat (15/11). 

Reporter : Tim
Editor : -
444
Berita Sebelumnya Baksos Gema Dua Ponorogo Kirimkan Bantuan Air Bersih
Berita Selanjutnya Penghasilan Tetap Perangkat Desa Naik Menjadi Rp 2 juta Lebih

Komentar Anda