Portal Indonesia
Habibie

Kegiatan Pelatihan Life Skill Dinilai Tidak Tepat Sasaran, JASA Minta Ketua BRA Diganti  

berita terkini
Jaringan Aneuk Syuhada Aceh
ramadhan

PORTALINDONESIA.NET, LHOKSEUMAWE - Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) menilai kegiatan pelatihan life skill yang diadakan oleh Badan Rentegrasi Aceh (BRA) Pusat selama 4 hari (11-14 November 2019) di sebuah hotel di daerah Lhokseumawe, Aceh Utara, tidak tepat sasaran. 

Selain itu, JASA menganggap pelatihan life skill tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan karena BRA Pusat dalam melaksanakan pelatihan life skill dalam rangka pemberdayaan ekonomi itu tidak melibatkan masyarakat yang terimbas konflik. 

Hal itu disampaikan Kordinator Daerah 2 Samudra Pase, Abdul Hafis kepada wartawan portalindonesia.net, Selasa (12/11/2019).

"BRA Pusat secara prosedur dinilai sudah menyalahi aturan, karena seharusnya korban konflik yang diprioritaskan dalam kegiatan pelatihan life skill itu," ungkap Hafis. 

Menurut Hafis, dalam pelatihan life skill itu menyebut pesertanya antara lain eks kombatan, eks tahanan dan narapidana politik (tapol/napol), dan masyarakat terimbas konflik.

"Faktanya, tidak ada satu pun dari korban konflik yang tergabung dalam JASA yang mengikuti dalam pelatihan life skill tersebut," ungkap Hafis. 

Dalam hal ini, membuat Hafis berikut semua Anak Syuhada sebagai korban konflik menyampaikan kekecewaannya terhadap BRA Pusat. 

"Kami tidak terima dan kecewa berat kepada BRA Pusat, karena tidak satupun dari kami Anak Syuhada menjadi peserta life skill. Jangankan menjadi peserta, undangan dan pemberitahuan pun kami tidak terima. Apalagi acara dilaksanakan di Lhokseumawe, saya selaku Kordinator Anak Syuhada di Daerah 2 tidak terima," beber Hafis penuh kecewa. 

Dalam hal ini, Hafis juga menganggap kegiatan yang digelar oleh BRA Pusat bukan hanya tidak tepat sasaran, tapi juga hanya untuk menghabiskan anggaran saja. 

"Kami kecewa kepada MY selaku ketua BRA Pusat yang tidak profesional dalam menjalankan tugas sesuai apa yang diamanahkan dalam MoU Helsinki," tandasnya. 

Ia berharap kepada Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat dapat merekomendasikan agar Plt Gubernur Aceh untuk secepatnya menggantikan ketua BRA Pusat karena dianggap tidak amanah dalam menjalankan tugasnya. "Ini demi menjamin keberlangsungan perdamain di Aceh, mengingat sampai saat ini korban konflik dan Aneuk Syuhada belum tersentuh bantuan apapun dari BRA terutama kami yang di wilayah Pase" tutup Hafis. 

Hingga berita ini diturunkan, pihak BRA Pusat  tidak bisa dihubungi saat hendak dikonfirmasi lewat sambungan seluler. 

Reporter : Manzahari
Editor : Abdul Hakim
444
Berita Sebelumnya UMK Bondowoso 2020 Diusulkan Rp 1,9 Juta
Berita Selanjutnya Warung Sengon Dilalap Api, Warga Keluhkan Lambatnya Damkar

Komentar Anda