Portal Indonesia
Habibie

Dokar Riwayatmu Kini, Meski Jarang Namun Masih Dibutuhkan

berita terkini
Narikin (70), kusir dokar di Banyumas yang masih bertahan. (Foto : Tris/PORTALINDONESIA)
ramadhan

PORTALINDONESIA.NET, BANYUMAS - Pada hari minggu kuturut ayah ke kota / naik delman istimewa kududuk dimuka / kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja / mengendali kuda supaya baik jalannya / tuk, tik, tak, tik, tuk, tik, tak, tik, tuk / suara sepatu kuda......

Romantisme lagu 'Naik Delman' ciptaan Ibu Sud, dimasa sekarang ini sepertinya sudah tak terasa lagi. Lagu ini akan lebih lebih terasa tawar jika dokar, delman, bendi atau andong tak lagi berjaya seperti dulu.

Dizaman yang terus dibanjiri beragam produk-produk teknoligi bermesin yang makin memanjakan manusia, tak ayal semakin 'menggusur' keberadaan dokar.

Di beberapa kota, termasuk Purwokerto, populasi dokar kian menipis. Itu pun hanya beroperasi dan dijumpai di titik-titik tertentu saja. Bahkan sudah sangat jarang dijumpai di kawasan kota.Kalaupun ada, hanya dijumpai di beberapa pasar tradisional dengan penumpang yang masih setia.

Narikin (70) salah seorang kusir dokar di Banyumas yang masih bertahan mengaku susah mendapatkan penumpang yang utuh alias pelanggan. Lelaki baya warga Desa Kedungwringin, Kecamatan Patikraja, Banyumas ini lebih memilih membawa penumpang anak-anak yang ingin berkeliling.

Sejak remaja sampai diusianya yang sudah renta, ia memilih berprofesi sebagai kusir dokar. "Sudah tiga kali saya ganti kuda. Rata-rata sudah beumur tua dan kurang bertenaga, jadi harus regenerasi", katanya.

Kuda-kuda miliknya namanya cukup unil dan tak lazim. Pertama ia memiliki seekor kuda bernama 'Herman' yang selama 8 tahun mengirinya bekerja. Kemudian ia membeli kuda lagi bernama 'Hendro' yang selama 15 tahun menemaninya. Dan sekarang kudanya yang baru dibeli beberapa bulan lalu ia beri nama 'Hendrik'.

Narikin sendiri mengaku mensyukuri apa yang sudah menjadi profesinya tersebut sejak masih remaja. Ia tidak tahu apakah profesi kusir kuda kedepannya akan bertahan atau terdegradasi digerus zaman.

Barangkali sudah menjadi suratan takdir, delman sekarang bukan lagi transportasi umum, namun lebih cenderung sebagai alat transportasi wisata.

Di Denpasar, dokar menjadi sarana angkutan pilihan wisatawan mancanegara. Turis asing menyebutnya 'house cart' dan bahkan dijadikan atraksi wisata dengan parade dan karnavalnya. Dokar juga masih bisa dijumpai di Semarang. Hampir tiap minggu pagi, banyak dokar bersliweran mengitari Simpang Lima. Di kawasan Candi Borobudur Magelang, dokar juga masih bisa dijumpai.

Di Jatim, dokar masih bisa dijumpai di Situbondo. Sedangkan di Purworejo, Jateng, disebut 'bendi'. Jumlahnya sudah tidak sebanyak beberapa tahun silam.

Yogyakarta bisa jadi adalah kota yang memiliki populasi dokar terbanyak. Terlebih tempat-tempat wisata sejarah seperti Keraton saling berdekatan, sehingga pemerintah setempat pun sangat memperhatikan keberadaan dokar. Para kusir dokar di Jogjakarta memiliki keunikan tersendiri, dimana mereka mengenakan pakaian khas daerah dan blangkon di atas kepala.

Meski sudah sangat jarang, namun beradaan dokar masih bisa dilihat di hampir resort wisata di Indonesia. Ini bisa menjadi "obat kecewa" bagi mereka yang merasa angkutan tradisional ini mulai jarang terlihat dari peradaban. 

 

 

Reporter : Tris
Editor : Abdul Hakim
444
Berita Sebelumnya Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 H di Bumi Cendrawasih
Berita Selanjutnya BPBD Situbondo Serahkan Bantuan Tandon Air Kepada Pemdes Selomukti

Komentar Anda