Portal Indonesia
Habibie

Cokro Wibowo Sumarsono: Visi Misi Calon Kepala Daerah Berbasis Kawasan

berita terkini
Cokro Wibowo Sumarsono
ramadhan

PORTALINDONESIA.NET, MALANG RAYA - Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Malang sebentar lagi bakal digelar. Sehubungan dengan hal tersebut, seorang tokoh di wilayah Malang Raya, Cokro Wibowo Sumarsono, membuat sebuah artikel yang berjudul Visi Misi Calon Kepala Daerah Berbasis Kawasan

Berikut ini artikel yang ditulis Cokro Wibowo Sumarsono: 

Pemilukada Kabupaten Malang sebentar lagi bakal digelar. Beberapa kandidat Bupati/Wakil Bupati mulai memperkenalkan diri kepada masyarakat. Berasal dari beragam latar belakang basis sosial politik. Biasanya akan diikuti dengan maraknya alat peraga kampanye berisi jargon, slogan serta visi misi dari masing-masing kandidat. 

Permasalahan yang sering terjadi adalah apakah visi misi dari para kandidat tersebut sudah nyambung dan nyekrup dengan situasi dan kondisi riil masyarakat Kabupaten Malang ataukah belum. Apakah visi misi tersebut sudah sesuai dengan kondisi geografis kewilayahan beserta karakter masyarakat pendukungnya apa belum.

Agar visi misi kandidat kepala daerah tidak ngawang harus diketahui anatomi kewilayahan di Kabupaten Malang secara riil berdasarkan data dan fakta yang ada. Data dan fakta tentang kebutuhan dasar masyarakat yang perlu dan mendesak mendapatkan layanan publik. Keragaman aspirasi dari beberapa kawasan wilayah yang tersebar, karakter dan kearifan lokal yang bersifat kewilayahan, serta potensi sektoral berbasis sumber daya alam yang dimiliki oleh kawasan adalah basis data penyusunan visi misi seorang calon kepala daerah.

Dalam bidang sosial politik anatomi masyarakat Kabupaten Malang terdiri atas dua golongan besar yaitu golongan nasionalis dan golongan agamis. Golongan nasionalis mengakar kuat di basis masyarakat Jawa. Memiliki kekuatan kolektif yang luar biasa, militan, mengakar di desa-desa dengan tokoh-tokoh lokal yang menyebar rata di tiap desa. Kelemahannya, seringkali kemenangan partai-partai berhaluan nasionalis dalam Pemilu Legislatif tidak berkorelasi dengan kemenangan kandidatnya dalam Pemilukada. Sementara itu untuk golongan masyarakat agamis telah mampu memunculkan banyak figur yang berkarakter namun cenderung masih bergerak sendiri-sendiri, tidak berada dalam satu rajutan yang kuat. Masing-masing tokoh memiliki dan memimpin komunitasnya sendiri-sendiri.

Secara kewilayahan Kabupaten Malang merupakan sebuah wilayah yang sangat unik, luas dan terfragmentasi. Terdapat dua daerah enklave (daerah kantong) di dalam wilayah Kabupaten Malang yaitu Kota Malang dan Kota Batu. Daerah-daerah kantong inilah yang selama ini lepas dari jangkauan visi misi para kandidat Bupati. Hampir semua kandidat menganggap Kota Batu dan Kota Malang adalah entitas yang mutlak terpisahkan dengan wilayah Kabupaten Malang. 

Secara administratif hal tersebut dapat dibenarkan. Namun secara historis, sosio kultural dan tata niaga ekonomi dua daerah kantong tersebut tidak bisa dipisahkan dengan wilayah Kabupaten Malang. Artinya membangun Kabupaten Malang ke depan haruslah dengan bersinergi positif bersama Kota Malang dan Kota Batu sekaligus. Mengapa hal tersebut perlu dilakukan, karena wilayah Kabupaten Malang tersekat oleh dua kota tersebut.

Bahkan untuk wilayah Pujon, Ngantang dan Kasembon di area barat terpisah sama sekali dengan wilayah induk Kabupaten Malang. Warga dari ketiga Kecamatan tersebut harus melewati Kota Batu dan Kota Malang dahulu untuk sampai di Ibu Kota Kabupaten di Kepanjen. Untuk warga yang berada di wilayah Kecamatan Lawang, Singosari, Jabung, Karangploso, Pakis dan Dau untuk menuju Kepanjen harus melewati Kota Malang terlebih dahulu, berikut dengan segudang permasalahannya.

Banyaknya permasalahan yang ada di Kota Malang berimbas secara langsung terhadap perkembangan Kabupaten Malang, misalnya masalah kemacetan lalu lintas. Untuk mengurangi kemacetan solusi kongkritnya adalah dengan pembangunan jalan lingkar kota ring road agar warga Kabupaten yang ada di kawasan barat dan utara bisa mengakses secara cepat ke Kepanjen tanpa harus melewati rumitnya kemacetan di dalam kota. Begitu juga sebaliknya agar warga dari kawasan selatan dapat menuju kawasan utara tanpa melalui keruwetan lalu lintas yang ada di dalam kota.

Secara geografis Kabupaten Malang terdiri atas kawasan pegunungan, kawasan lembah dan kawasan pantai. Kawasan pegunungan terpisah antara satu dengan yang lainnya karena terdiri atas beberapa wilayah gunung utama yaitu kawasan lereng Semeru bagian barat, lereng Semeru bagian selatan, lereng Tengger bagian barat, lereng Kawi bagian selatan, lereng kawi timur dan utara serta lereng Arjuno bagian timur dan selatan.

Pembangunan berbasis kawasan dapat dilakukan dengan mengutamakan sumber daya alam serta kearifan lokal setempat dengan membuat satu desa percontohan sebagai model ujung tombak perubahan. Konsep pembangunan Kabupaten Malang tidak boleh di gebyah uyah atau disama ratakan antara wilayah satu dengan wilayah lainnya. Masing-masing punya karakteristik dan keunggulan sendiri-sendiri. Prinsip keadilan tetap harus diutamakan, namun harus tetap berdasarkan topografi dan kearifan lokal di masing-masing kawasan.

Untuk wilayah Pesisir, dalam waktu dekat akan terbuka dengan adanya pembangunan jalan lintas selatan (JLS). 

Jika kita melihat peta Jawa Timur secara utuh maka titik tengah jalan lintas selatan Jawa Timur tersebut tepat berada di kawasan Malang selatan. Jika dari kawasan Malang Selatan ini ditarik garis lurus ke utara akan langsung bisa menuju ke Surabaya dengan jarak tempuh yang paling dekat. Artinya perlu dibangun sebuah jalan koridor besar yang menghubungkan antara pantai utara dengan jalan lintas selatan. Dampak dari pembangunan jalan koridor tersebut nantinya bakal melahirkan kawasan kota baru di Malang selatan, tepatnya di area pertigaan antara jalan lintas selatan dengan jalur koridor ke arah Surabaya.

Pembangunan kawasan kota baru di Malang selatan ini diperlukan guna pemerataan pembangunan serta penataan kawasan pusat perekonomian baru di selatan Jawa Timur yang dipusatkan di Malang selatan. Dampaknya akan tumbuh kawasan ekonomi baru di selatan, untuk itu harus disiapkan pranata hukum guna melindungi warga setempat agar tidak sekedar menjadi sasaran eksploistasi dari para pemodal yang bakal berbondong-bondong datang ke area selatan. Terutama adalah terkait jual beli aset tanah dan rekrutmen sumber tenaga kerja.

Untuk kawasan lembah dataran rendah terdiri atas wilayah tengah Kabupaten Malang serta sebagian wilayah yang berada di perbatasan lingkar luar Kota Malang. Di kawasan ini masyarakat sudah tergolong berpendidikan maju, tinggal mensinergiskan potensi yang masih terserak. Prospek besarnya adalah menjadikan kawasan ini sebagai lumbung padi nasional, mengingat tingkat kesuburan tanah dengan dukungan ketersediaan air yang cukup melimpah. 

Masalah utama warga di kawasan lembah adalah mayoritas masih membelanjakan uangnya di Kota Malang. Daya sedot Kota Malang atas potensi rupiah warga Kabupaten memang menjadi masalah utama warga di kawasan lembah yang hampir setiap hari mondar-mandir ke Kota Malang.

Solusinya perlu dibangun pasar induk sebagai pusat ekonomi baru di empat penjuru kawasan  sebelum masuk Kota Malang. Tepatnya di Pakis, Karangploso, Dau dan Pakisaji guna menjaga perputaran dana warga agar tetap berada di wilayah Kabupaten Malang. 

Di Kota putaran dana sudah sangat terbantukan oleh keberadaan ratusan ribu mahasiswa yang studi di sekitar 60 Perguruan Tinggi. Artinya perlu pemerataan keadilan ekonomi bagi warga Kabupaten Malang. Kebiasaan belanja di Kota bisa dikurangi dengan mendirikan pusat-pusat ekonomi dan perbelanjaan tradisional (pasar) di empat titik penjuru lingkar luar Kota Malang tersebut di atas. Sebagai pusat kulakan warga kabupaten agar uang warga kabupaten tidak tersedot semua ke Kota Malang.

Khusus untuk kawasan Kasembon yang mayoritas warga membelanjakan uangnya di wilayah Kabupaten Kediri (Pare) perlu diselesaikan dengan pembangunan pasar induk untuk kawasan Malang bagian barat di wilayah tersebut. 

Untuk kawasan utara, potensi besar yang perlu dikembangkan secara sinergis adalah sektor pariwisata. Keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singosari hendaknya tidak sekedar menjadi tontonan warga Kabupaten Malang. Namun bisa menjadi daya ungkit kemajuan ekonomi kreatif warga. Contoh kongkritnya adalah menjadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singosari sebagai lapak etalase hasil produksi unggulan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) desa-desa di Kabupaten Malang. 

Selain itu, sinergi Kawasan Ekonomi Khusus Singosari dengan jaringan Desa Wisata yang telah ada mutlak diperlukan. Agar dana segar yang dibawa para wisatawan dapat secara langsung terbelanjakan di kios-kios warga, tidak tersedot habis oleh wahana-wahana wisata raksasa milik para juragan. 

Dengan penguatan visi misi ekonomi berbasis kawasan tersebut diharapkan bakal meramaikan pertarungan visi misi para kandidat Bupati Malang dalam sebuah prosesi adu gagasan yang mengakar berdasarkan kebutuhan dasar warga.

Glugu Tinatar, Landungsari - Malang. Minggu 23 Juni 2019. (*)

Reporter : Galih
Editor : Abdul Hakim
444
Berita Sebelumnya HUT Bhayangkara ke 73, Polres Situbondo Gelar Lomba Catur Kapolres Cup I
Berita Selanjutnya Polres Ponorogo Panen Tersangka Berbagai Kasus

Komentar Anda